Selasa May 22

Ada Jaringan Seluler Tak Siap Hadapi Lebaran?

There are no translations available.

08/09/2010 - 12:11

Jakarta - Laporan Kemenkominfo menunjukkan 96% jaringan operator siap menyambut Lebaran. Namun hasil pengecekan IDTUG menunjukkan hasil yang berbeda.

IDTUG (Indonesia Telecommunications Users Group) telah melakukan uji coba layanan seluler di beberapa kota besar di antaranya Jakarta, Semarang, Surabaya dan Medan sejak 23 Agustus hingga 1 September 2010.

Lembaga independen ini melakukan pengamatan kualitas jaringan pada Telkomsel, Indosat, XL, Three dan Axis. Secara keseluruhan, beberapa operator memang memenuhi standarisasi, namun masih banyak masalah di antaranya drop call, block call, SMS tidak terkirim dan layanan data tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

“Berdasarkan pengamatan, beberapa operator masih mengalami gangguan di wilayah terpencil di Medan, Surabaya, Semarang dan Jakarta. Padahal tidak seharusnya terjadi. Mereka harus mempersiapkan semua titik jaringan. Masih banyak kekurangan standar dari studi kami,” ujar Sekjen IDTUG Muhammad Jumadi saat dihubungi INILAH.COM kemarin.
Uji coba itu berdasarkan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 12 tahun 2008 menyangkut Standar Kualitas Pelayanan Jasa Telepon. Jumadi menyoroti beberapa operator di antaranya XL dan Axis.

“Kedua operator ini di beberapa wilayah menunjukkan kualitas yang tidak sesuai standarisasi. Padahal, operator harus mempersiapkan kemungkinan terburuk. Mereka harus punya cadangan sehingga tidak merepotkan pengguna,” imbuhnya.

Di Semarang Jumadi mencontohkan, Uji Layanan Transmisi Data yang dilakukan IDTUG secara bergerak maupun statis dengan parameter uji Keberhasilan Sambungan (Success Rate) dan uji Kecepatan Rata-rata (Mean Throughput).

Khusus Layanan Data Bergerak (Data Mobile), tiga Operator, Telkomsel, Three dan AXIS, meraih angka sempurna dengan mencatat 100% keberhasilan sambungan data (Success Rate). Sementara itu, Indosat meraih 87,14%. Namun yang perlu mendapat catatan, adalah XL-Axiata hanya 25% dengan drop call mencapai 69,57%.

“Jaringan di beberapa tempat, saat berpindah dari 3G ke 2G maka secara otomatis akan ada koneksi yang terputus. Pada XL misalnya, ini harus diantisipasi. Mereka seharusnya mempersipakan BTS mobile lebih banyak,” kata Jumadi.

Menurut Sekjen IDTUG ini, beberapa penyebab di antaranya pola traffic yang berpindah satu tempat ke tempat lain. Para operator dinilai hanya melakukan persiapan di sepanjang jalan tertentu.

“Mungkin di area tersebut bukan menjadi wilayah prioritas mereka atau saat itu traffic sedang tinggi. Di sisi lain, kami menggunakan alat resmi yang teruji sehingga hasilnya dapat dipertangungjawabkan,” katanya.

Di sisi lain, XL menanggapi hasil ini dengan santai. “Kami justru mempertanyakan maksud dan hasil IDTUG. Padahal, hasil dari BRTI dan Kemenkominfo menunjukan bahwa semua operator telah memiliki kesiapan 96%,” kata Head of Corporate Communication XL Febriati Nadira.

XL juga menerima semua masukan yang diberikan berbagai pihak meskipun tidak akan ambil pusing soal itu. “Kami sangat terbuka dengan masukan yang diberikan IDTUG untuk memberikan yang terbaik. Meskipun begitu, kami menghimbau tidak mempublikasikan sebelum dilakukan konfirmasi dengan operator agar tidak melangkahi BRTI,” paparnya.

XL menolak dibilang tutup mata soal masalah itu. Ira panggilan akrab Febriati Nadira menyatakan IDTUG jangan membuat masyarakat bingung. “Bukan tidak pantas namun sebaiknya (IDTUG) melakukan konfirmasi untuk tidak melangkahi pemerintah,” katanya.

Sementara Direktur Eksekutif Mastel (Masyarakat Telematika Indonesia) Eddy Thoyib mempertanyakan hasil uji coba IDTUG itu. “Sebenarnya, jika ada sedikit masalah yang terjadi bukan berarti kualitas jaringan operator tersebut secara keseluruhan. Sesekali drop call sebenarnya hal biasa mengingat mobilitas masyarakat tinggi saat Lebaran.”

Mastel juga mempertanyakan standarisasi studi yang dilakukan IDTUG. “Semua studi harus dilakukan dengan teknik, pihak-pihak yang memiliki sertifikasi untuk melakukan itu, serta proses pemilihan sampling juga harus jelas. Saya rasa tidak semua studi harus menjadi pertimbangan kualitas suatu operator,” imbuhnya. [ito/mdr - Ellyzar Zachra PB - Inilah]

Rabu, 8 September 2010 - 13:01 wib